Rabu, 11 Juni 2014

MANUSIA DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN (revisi)



MANUSIA DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN

Diajukan sebagai tugas UAS  mata kuliah Tehnik Penulisan Karya Ilmiah
Dosen pengampu: Indrya Mulyaningsih, M.Pd








Disusun oleh:
Khaerudin                               14113440028




TAFSIR HADITS VI/A
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON 
2014


BAB 1
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang hidup di muka bumi ini. Keberadaan yang berupa bentuk fisik, jenis dan perilaku manusia selalu menjadi bahan objek kajian yang tidak sepi untuk diperbincangkan. Terma pembahasan  manusia tidak hanya dibahas oleh manusia itu sendiri, akan tetapi diskursus kemanusiaan juga tercantum dalam al-Qur’an yang merupakan Kalam Allah yang diturunkan untuk  pedoman tiap individu manusia.
Posisi al-Qur’an yang tinggi, suci dan terjaga  sedangkan  manusia yang begitu kompleks dengan kriteria dan sifatnya menjadi sorotan  menarik untuk dikaji secara mendalam. Dalam al-Qur’an tidak sedikit ayat-ayat yang menyinggung masalah kemanusiaan. Oleh karena itu kami ingin mengetahui pandangan al-Qur’an terhadap manusia.
Namun pada kesempatan ini pemakalah ingin membahas tentang “Manusia dalam perspektif al-Qur’an” dengan mengacu pada al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 286, Ali Imron ayat 14 dan ar-Rum ayat 30.

B.       Rumusan Masalah
Berdasar latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah sebagai berikut:
1.               Bagaimanakah manusia dalam pandangan QS. al-Baqarah ayat 286?
2.                Bagaimanakah manusia dalam pandangan QS. Ali Imron ayat 14?
3.                Bagaimanakah manusia dalam pandangan QS ar-Rum ayat 30?

C.       Tujuan Penulisan
Berdasar rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai sebagai berikut:
1.                Mengetahui manusia dalam pandangan QS. al-Baqarah ayat 286
2.                Mengetahui manusia dalam pandangan QS. Ali Imron ayat 14
3.                Mengetahui manusia dalam pandangan QS ar-Rum ayat 30
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Manusia dalam pandangan  Surat al-Baqarah: 286
1.                Surat al-Baqarah: 286
 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."


2.                Asbabun nuzul
                        Ahmad, Muslim, dan yang lain meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, ketika turun firman Allah swt surat al-Baqarah: 284 “Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah swt memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu”.
                                    Para sahabat pun merasa sedih, lalu mereka mendatangi Rasulullah dan berlutut di hadapan beliau, lalu berkata: Telah turun kepadamu ayat ini sedangkan kamu tidak mampu menanggungnya. Rasulullah saw bersabda: Apakah kalian ingin mengatakan seperti apa yang di katakan kedua Ahli kitab sebelum kalian, kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya. Maka katakanlah, kami dengar dan kami taat. Ampuni kami ya Tuhan kami dan kepada engkaulah tempat kembali.
                          Ketika mereka dapat mengucapkan kata-kata tersebut dengan mudah, Allah swt menurunkan firman-Nya setelah itu, Allah swt tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebajikan yang di kerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang di perbuatnya. Mereka berdo’a , ya Tuhan kami janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engaku bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau pikulkan kepaqda kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (al-Baqarah:286)[1][1]

3.                Tafsir Surat al-Baqarah: 286 
                                    Kata manusia pada ayat di atas menggunakan kalimat an-nafs yang secara literatur lughowi diartikan sebagai jiwa, ruh dan diri orang[2][2]. Dalam ayat ini manusia diposisikan sebagai makhluk Allah yang bersyariat, melakukan hukum syariat agama islam dan menerima taklif  (kewajiban untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan) sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Pelaksanaan syariat oleh manusia islam adalah  mathlub bi ad-din yakni  tuntutan dalam agama yang harus dijalankan oleh pemeluknya.
                        Totalitas  penyembahan seorang hamba harus dipahami secara ilmy dan ‘amaly. Secara ilmy penyembahan kepada Allah harus memiliki dasar teori dan dalil yang jelas “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku”[3][3]. Adapun  secara ‘amaly pelaksanaan ibadah seperti sholat, puasa, haji dan yang lainnya juga harus maksimal dengan sepenuh daya dan kekuatan yang dimiliki (La yukallifu Allahu nafsan illa wus’aha).
                                    Dengan turunnya ayat ini hendaknya manusia menyadari betul akan sifatnya yang lemah dan meyakini sifat Allah yang Maha Lathif, Maha Bijaksana dan Maha Kasih  pada makhluk-Nya [4][4].
Dan dari ayat ini terciptalah sebuah kaidah ushul fiqh الميسور لا يسقط بالمعسور  “Perkara yang mudah dilaksanakan tidak gugur karena adanya yang sukar dilaksanakan”[5][5]

B.       Manusia dalam pandangan  Surat al-Imran: 14
1.                Surat al-Imran: 14
                                    “dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

2.                Tafsir surat al-Imran: 14
Kata manusia dalam ayat ini disebut dengan menggunakan kalimat an-Nas bentuk plural dari mufrad “insan” yang berarti ‘orang’[6][6]. Kata an-Nas memiliki sisi acuan pada aspek sosial. Dalam konsep an-Nas pada umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial. Tentunya sebagai makhluk sosial manusia harus mengutamakan keharmonisan bermasyarakat. Manusia harus hidup sosial artinya tidak boleh sendiri-sendiri. Karena manusia tidak bisa hidup sendiri.
Jika kita kembali ke asal mula terjadinya manusia yang bermula dari pasangan laki-laki dan wanita (Adam dan Hawa), dan berkembang menjadi masyarakat dengan kata lain adanya pengakuan terhadap spesies di dunia ini, menunjukkan bahwa manusia harus hidup bersaudara dan tidak boleh saling menjatuhkan. Secara sederhana, inilah sebenarnya fungsi manusia dalam konsep an-Nas.
Dari term an-Nas ayat ini contoh setting sosial yang dihadapi manusia adalah kecintaan kepada wanita, anak, harta, binatang dan tanaman. Kecintaan pada wanita menjadi nomor wahid dalam strata kecintaan manusia (khususnya bagi Laki-laki) di tengah kehidupan masyarakatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasul yang berbunyi :
ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء
Tidaklah aku tinggalkan fitnah setelah zamanku yang lebih berbahaya dari pada hal urusan wanita”.
Lalu anak juga menjadi lahan terpaan masalah hidup bermasyarakat bagi manusia karena anak merupakan buah hati dan penikmat penglihatan bagi orang tuanya. Harta yang berlimpah juga menjadi bahan kehidupan bersosial karena asal dari penerusan syahwat dan semua orang tidak dipungkiri selalu bersusah payah untuk mendapatkanya baik berupa harta dalam bentuk uang, hewan peliharaan, dan tanah ladang[7][7].
Jadi terma an-Nas dalam ayat ini mengindikasikan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang harus bisa berakhlak kepada masyarakat dengan sebaik-baik aikhlak sebagaimana yang  dicontohkan manusia terbaik yakni Rasulallah saw yang selalu teguh pada al-Qur’an.
Dari sekian banyak persoalan hidup sosial, manusia diharapkan mampu untuk menyeimbangkannya dengan hak-hak / hubungan dengan Allah  secara baik dan benar sesuai ajaran al-Qur’an (hablun min Allah dan hablun min an-nas). Dan banyak lagi term an-Nas yang disebutkan dalam al-Qur’an seperti masalah peradaban dan kebudayaan manusia dalam Surat al-Baqarah ayat 143, dan sebagainya.


C.      Manusia dalam pandangan  Surat ar-Rum : 30
1.                Surat ar-Rum : 30
              “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”


2.                Tafsir  perspektif al-Maraghi surat ar-Rum: 30
                             Dalam tafsiran al-Maraghi, manusia dituntut untuk berpegang dan menetapi pada fithah asal penciptaannya, karena sesungguhnya Allah swt menciptakan manusia sesuai dengan fithrahnya yakni untuk bertauhid kepada Allah swt, karena tauhid itu seirama dengan yang di tunjukkan oleh akal dan mengarahkan kepada nalar yang benar.
Ayat ini bermunasabah dengan surat al-A’raf ayat 172 yang berbunyi :
  
dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Dan juga bermunasabah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang berbunyi:
كل مولود يولد على الفطرة حتى يكون أبواه هما اللذان يهودانه او ينصرانه او يمجسانه الخ....
Setiap manusia yang di lahirkan itu menetapi pada fithrahnya sehingga kedua orangtuanya lah yang akan menjadikan anaknya menjadi yahudi, nasrani, majusi…..
Lebih jauh lagi Ahmad Musthafa al-Maraghi mengibaratkan tentang akal manusia itu seperti halnya kertas putih yang bisa ditulis untuk apa saja, juga seperti bumi yang bisa ditumbuhi apa saja. Ayat ini memberikan limitasi dan warning kepada manusia untuk jangan sampai mengganti fithrahnya yang telah Allah swt ciptakan untuk dirinya atau  secara sederhana janganlah kalian mengganti agama Allah swt dengan syirik. [8][8]
Term an-Nas pada surat ar-Rum ayat 30 ini yang disambungkan dengan fitrah Allah mendefinisikan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang berakidah dan bertauhid kepada Allah.




BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
1.             Manusia dalam pandangan QS al-Baqarah ayat 286 menggunakan kalimat an-Nafs yang dikaitkan dengan masalah kesanggupan manusia dalam melaksanakan taklif agama yang menjurus pada manusia adalah makhluk Allah yang bersyariat.
2.             Manusia dalam pandangan QS ali ‘Imran ayat 14 menggunakan kalimat an-Nas yang dikaitakan dengan masalah sosial dan interaksi mereka ditengah kehidupannya sebagai zoon politikon menjurus pada kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang berakhlak dan bersikap.
3.             Manusia dalam pandangan QS ar-Rum ayat 30 menggunakan kalimat an-Nas yang dikaitkan dengan  hal fitrah Allah yang menuntunnya untuk ber’akidah dan bertauhid kepada Allah.












DAFTAR PUSTAKA

Al-Aydrusy,  Sayid Ahmad Idrus. 2012.  Miftah ar-Rahman. Jakarta: Dar Kutub al-
Islamiyah.
 
Al-Maraghi, Ahmad  Musthafa. 2006. Tafsir al-Maraghi, Bairut Libanon: Dar al-Fikr.

Al-Qur’an Al-Karim.

As-Shabuni, Muhammad Ali. 2001. Shofwah at-Tafasir. Beirut : Dar al-Fikr.

As-Suyuti, Jalaluddin. 2008. Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani.   

A.W. munawwir. 1997. Kamus Al-Munawwir. Yogyakarta: Pustaka Progresif.

Ibnu Katsir. 2011. Tafsir Ibnu Katsir. Beirut : Dar al-fikr.

Mudjib, Abdul. 1996.  Kaidah-Kaidah Ilmu Fiqih. Jakarta Pusat : Kalam Mulia.







MANUSIA DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN
Khaerudin
herugadir@gmail.com
Abstrak
Al-Qur’an sebagai Kalam Allah banyak memuat ayat yang menjelaskan  tentang bentuk, karakter dan aksi manusia.  Penulisan makalah “Manusia dalam pandangan al-Qur’an” bertujuan  untuk menjelaskan manusia dari sudut pandang al-Qur’an dengan mengambil sampel beberapa ayat. QS al-Baqarah ayat 286 menggunakan kalimat an-Nafs dikaitkan dengan masalah kesanggupan manusia dalam melaksanakan taklif agama akan menjurus pada pemahaman manusia sebagai makhluk Allah yang bersyariat. QS Ali ‘Imran ayat 14 menggunakan kalimat an-Nas diartikan sebagai makhluk Allah yang berakhlak dan bersikap karena dihubungkan dengan masalah sosial dan interaksi ditengah kehidupan mereka. QS ar-Rum ayat 30 menggunakan kalimat an-Nas yang direlasikan dengan  hal fitrah Allah yang menuntunnya untuk ber’akidah dan bertauhid kepada Allah. Berdasar dari data tersebut, maka manusia merupakan  makhluk Allah SWT yang bersyariat melaksanakan agama, pelaku sosial berakhlak dan pengemban akidah.    
Kata Kunci: al-Qur’an, makhluk, manusia,








[1][1] Jalaluddin As-Suyuti, Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2008), cet.1, hlm.113-114
[2][2] A.W. munawwir. Kamus Al-Munawwir. (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1997) cet. 14, hlm. 1446.
[3][3] QS. Al-Dzariyat : 56
[4][4] Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir. (Beirut : Dar al-fikr, 2011) jilid I hlm. 312
[5][5] Abdul Mudjib. Kaidah-Kaidah Ilmu Fiqih. (Jakarta Pusat : Kalam Mulia, 1996) cet. 2 , hlm. 97
[6][6] A.W. munawwir. Kamus Al-Munawwir. (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1997) cet. 14, hlm. 1474
[7][7] Muhammad Ali As-Shabuni. Shofwah at-Tafasir. (Beirut : Dar al-Fikr, 2001) jilid I, hlm. 172
[8][8] Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (Bairut Libanon: Dar al-Fikr. 2006), hlm 217-218