MANUSIA DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN
Diajukan sebagai tugas UAS mata kuliah Tehnik Penulisan Karya Ilmiah
Dosen pengampu: Indrya Mulyaningsih, M.Pd
Disusun oleh:
Khaerudin 14113440028
TAFSIR
HADITS VI/A
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
2014
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Manusia adalah salah satu makhluk
Allah yang hidup di muka bumi ini. Keberadaan yang berupa bentuk fisik, jenis
dan perilaku manusia selalu menjadi bahan objek kajian yang tidak sepi untuk
diperbincangkan. Terma pembahasan
manusia tidak hanya dibahas oleh manusia itu sendiri, akan tetapi
diskursus kemanusiaan juga tercantum dalam al-Qur’an yang merupakan Kalam Allah
yang diturunkan untuk pedoman tiap
individu manusia.
Posisi al-Qur’an yang tinggi, suci
dan terjaga sedangkan manusia yang begitu kompleks dengan
kriteria dan sifatnya menjadi sorotan
menarik untuk dikaji secara mendalam. Dalam al-Qur’an tidak sedikit
ayat-ayat yang menyinggung masalah kemanusiaan. Oleh karena itu kami ingin
mengetahui pandangan al-Qur’an terhadap manusia.
Namun pada kesempatan ini pemakalah
ingin membahas tentang “Manusia dalam perspektif al-Qur’an” dengan mengacu pada
al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 286, Ali Imron ayat 14 dan ar-Rum ayat 30.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasar
latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah
manusia dalam pandangan QS. al-Baqarah ayat 286?
2.
Bagaimanakah
manusia dalam pandangan QS. Ali Imron ayat 14?
3.
Bagaimanakah
manusia dalam pandangan QS ar-Rum ayat 30?
C.
Tujuan
Penulisan
Berdasar
rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai sebagai berikut:
1.
Mengetahui
manusia dalam pandangan QS. al-Baqarah ayat 286
2.
Mengetahui
manusia dalam pandangan QS. Ali Imron ayat 14
3.
Mengetahui
manusia dalam pandangan QS ar-Rum ayat 30
BAB II
PEMBAHASAN
A. Manusia dalam pandangan Surat al-Baqarah: 286
1.
Surat al-Baqarah: 286
“Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala
(dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang
dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum
kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada
orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami
apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan
rahmatilah kami. Engkaulah
penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
2.
Asbabun nuzul
Ahmad, Muslim, dan yang lain
meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, ketika turun firman Allah swt
surat al-Baqarah: 284 “Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau
kamu sembunyikan, niscaya Allah swt memperhitungkannya (tentang perbuatan itu)
bagimu”.
Para
sahabat pun merasa sedih, lalu mereka mendatangi Rasulullah dan berlutut di
hadapan beliau, lalu berkata: Telah turun kepadamu ayat ini sedangkan kamu
tidak mampu menanggungnya. Rasulullah
saw bersabda: Apakah kalian ingin mengatakan seperti apa yang di katakan
kedua Ahli kitab sebelum kalian, kami mendengar, tetapi kami tidak mau
menurutinya. Maka katakanlah, kami dengar dan kami taat. Ampuni kami ya Tuhan
kami dan kepada engkaulah tempat kembali.
Ketika mereka dapat mengucapkan
kata-kata tersebut dengan mudah, Allah swt menurunkan firman-Nya setelah itu, Allah
swt tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebajikan
yang di kerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang di perbuatnya.
Mereka berdo’a , ya Tuhan kami janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau
kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan
beban yang berat sebagaimana Engaku bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami janganlah Engkau pikulkan kepaqda kami apa yang tidak sanggup
kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah
pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (al-Baqarah:286)[1][1]
3.
Tafsir Surat al-Baqarah: 286
Kata manusia pada ayat di atas
menggunakan kalimat an-nafs yang secara literatur lughowi diartikan sebagai
jiwa, ruh dan diri orang[2][2]. Dalam ayat ini manusia diposisikan
sebagai makhluk Allah yang bersyariat, melakukan hukum syariat agama islam dan
menerima taklif (kewajiban untuk
menjalankan perintah dan menjauhi larangan) sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Pelaksanaan syariat oleh manusia islam adalah
mathlub bi ad-din yakni
tuntutan dalam agama yang harus dijalankan oleh pemeluknya.
Totalitas penyembahan
seorang hamba harus dipahami secara ilmy dan ‘amaly. Secara ilmy
penyembahan kepada Allah harus memiliki dasar teori dan dalil yang jelas “Dan
tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku”[3][3]. Adapun secara ‘amaly
pelaksanaan ibadah seperti sholat, puasa, haji dan yang lainnya juga harus
maksimal dengan sepenuh daya dan kekuatan yang dimiliki (La yukallifu Allahu
nafsan illa wus’aha).
Dengan turunnya ayat ini
hendaknya manusia menyadari betul akan sifatnya yang lemah dan meyakini sifat
Allah yang Maha Lathif, Maha Bijaksana dan Maha Kasih pada makhluk-Nya [4][4].
Dan dari ayat ini terciptalah sebuah
kaidah ushul fiqh الميسور لا يسقط بالمعسور “Perkara yang mudah dilaksanakan tidak
gugur karena adanya yang sukar dilaksanakan”[5][5]
B.
Manusia dalam pandangan Surat al-Imran: 14
1.
Surat al-Imran: 14
“dijadikan indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia,
dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
2.
Tafsir surat al-Imran: 14
Kata manusia dalam ayat ini disebut dengan menggunakan
kalimat an-Nas bentuk plural dari mufrad “insan” yang berarti
‘orang’[6][6]. Kata an-Nas memiliki sisi
acuan pada aspek sosial. Dalam konsep an-Nas
pada umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia
sebagai makhluk sosial. Tentunya sebagai makhluk sosial manusia harus
mengutamakan keharmonisan bermasyarakat. Manusia harus hidup sosial artinya
tidak boleh sendiri-sendiri. Karena manusia tidak bisa hidup sendiri.
Jika kita kembali ke asal
mula terjadinya manusia yang bermula dari pasangan laki-laki dan wanita (Adam
dan Hawa), dan berkembang menjadi masyarakat dengan kata lain adanya pengakuan
terhadap spesies di dunia ini, menunjukkan bahwa manusia harus hidup bersaudara
dan tidak boleh saling menjatuhkan. Secara sederhana, inilah sebenarnya fungsi
manusia dalam konsep an-Nas.
Dari term an-Nas ayat ini
contoh setting sosial yang dihadapi manusia adalah kecintaan kepada wanita,
anak, harta, binatang dan tanaman. Kecintaan pada wanita menjadi nomor wahid
dalam strata kecintaan manusia (khususnya bagi Laki-laki) di tengah kehidupan
masyarakatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasul yang berbunyi :
ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء
“Tidaklah aku tinggalkan fitnah setelah zamanku yang
lebih berbahaya dari pada hal urusan wanita”.
Lalu anak juga menjadi lahan terpaan masalah hidup
bermasyarakat bagi manusia karena anak merupakan buah hati dan penikmat
penglihatan bagi orang tuanya. Harta yang berlimpah juga menjadi bahan
kehidupan bersosial karena asal dari penerusan syahwat dan semua orang tidak
dipungkiri selalu bersusah payah untuk mendapatkanya baik berupa harta dalam
bentuk uang, hewan peliharaan, dan tanah ladang[7][7].
Jadi terma an-Nas dalam ayat ini
mengindikasikan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang harus bisa berakhlak
kepada masyarakat dengan sebaik-baik aikhlak sebagaimana yang dicontohkan manusia terbaik yakni Rasulallah
saw yang selalu teguh pada al-Qur’an.
Dari sekian banyak persoalan hidup sosial, manusia
diharapkan mampu untuk menyeimbangkannya dengan hak-hak / hubungan dengan
Allah secara baik dan benar sesuai
ajaran al-Qur’an (hablun min Allah dan hablun min an-nas). Dan banyak
lagi term an-Nas yang disebutkan dalam al-Qur’an seperti masalah
peradaban dan kebudayaan manusia dalam Surat al-Baqarah ayat 143, dan
sebagainya.
C. Manusia dalam pandangan Surat ar-Rum : 30
1.
Surat ar-Rum : 30
“Maka hadapkanlah wajahmu
dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah
menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
2.
Tafsir perspektif al-Maraghi surat ar-Rum: 30
Dalam tafsiran
al-Maraghi, manusia dituntut untuk berpegang dan menetapi pada fithah asal
penciptaannya, karena sesungguhnya Allah swt menciptakan manusia sesuai dengan
fithrahnya yakni untuk bertauhid kepada Allah swt, karena tauhid itu seirama
dengan yang di tunjukkan oleh akal dan mengarahkan kepada nalar yang benar.
Ayat
ini bermunasabah dengan surat al-A’raf ayat 172 yang berbunyi :
dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini
Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi
saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Dan juga bermunasabah dengan hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Bukhari yang berbunyi:
كل مولود يولد على الفطرة حتى يكون
أبواه هما اللذان يهودانه او ينصرانه او يمجسانه الخ....
Setiap manusia yang di lahirkan itu
menetapi pada fithrahnya sehingga kedua orangtuanya lah yang akan menjadikan
anaknya menjadi yahudi, nasrani, majusi…..
Lebih jauh lagi Ahmad Musthafa
al-Maraghi mengibaratkan tentang akal manusia itu seperti halnya kertas putih
yang bisa ditulis untuk apa saja, juga seperti bumi yang bisa ditumbuhi apa
saja. Ayat ini memberikan limitasi dan warning kepada manusia untuk jangan
sampai mengganti fithrahnya yang telah Allah swt ciptakan untuk dirinya
atau secara sederhana janganlah kalian
mengganti agama Allah swt dengan syirik. [8][8]
Term an-Nas pada surat ar-Rum ayat 30 ini yang
disambungkan dengan fitrah Allah mendefinisikan bahwa manusia adalah makhluk
Allah yang berakidah dan bertauhid kepada Allah.
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
1.
Manusia
dalam pandangan QS al-Baqarah ayat 286 menggunakan kalimat an-Nafs yang
dikaitkan dengan masalah kesanggupan manusia dalam melaksanakan taklif agama
yang menjurus pada manusia adalah makhluk Allah yang bersyariat.
2.
Manusia
dalam pandangan QS ali ‘Imran ayat 14 menggunakan kalimat an-Nas yang
dikaitakan dengan masalah sosial dan interaksi mereka ditengah kehidupannya
sebagai zoon politikon menjurus pada kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk
Allah yang berakhlak dan bersikap.
3.
Manusia
dalam pandangan QS ar-Rum ayat 30 menggunakan kalimat an-Nas yang dikaitkan
dengan hal fitrah Allah yang menuntunnya
untuk ber’akidah dan bertauhid kepada Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Aydrusy, Sayid Ahmad Idrus. 2012. Miftah ar-Rahman. Jakarta: Dar Kutub
al-
Islamiyah.
Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. 2006. Tafsir al-Maraghi, Bairut Libanon: Dar al-Fikr.
Al-Qur’an
Al-Karim.
As-Shabuni, Muhammad Ali. 2001. Shofwah at-Tafasir. Beirut : Dar al-Fikr.
As-Suyuti,
Jalaluddin. 2008. Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an. Jakarta: Gema
Insani.
A.W. munawwir.
1997. Kamus Al-Munawwir. Yogyakarta: Pustaka Progresif.
Ibnu Katsir.
2011. Tafsir Ibnu Katsir. Beirut : Dar al-fikr.
Mudjib, Abdul.
1996. Kaidah-Kaidah Ilmu Fiqih.
Jakarta Pusat : Kalam Mulia.
MANUSIA
DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN
Khaerudin
herugadir@gmail.com
Abstrak
Al-Qur’an sebagai Kalam Allah banyak memuat ayat
yang menjelaskan tentang bentuk,
karakter dan aksi manusia. Penulisan
makalah “Manusia dalam pandangan al-Qur’an” bertujuan untuk menjelaskan manusia dari sudut pandang
al-Qur’an dengan mengambil sampel beberapa ayat. QS al-Baqarah ayat 286
menggunakan kalimat an-Nafs dikaitkan dengan masalah kesanggupan manusia
dalam melaksanakan taklif agama akan menjurus pada pemahaman manusia sebagai
makhluk Allah yang bersyariat. QS Ali ‘Imran ayat 14 menggunakan kalimat an-Nas
diartikan sebagai makhluk Allah yang berakhlak dan bersikap karena dihubungkan
dengan masalah sosial dan interaksi ditengah kehidupan mereka. QS ar-Rum ayat 30 menggunakan kalimat an-Nas yang direlasikan dengan hal fitrah Allah
yang menuntunnya untuk ber’akidah dan bertauhid kepada Allah. Berdasar dari data tersebut,
maka manusia merupakan makhluk Allah SWT
yang bersyariat melaksanakan agama, pelaku sosial berakhlak dan pengemban
akidah.
Kata Kunci: al-Qur’an, makhluk,
manusia,
[1][1]
Jalaluddin As-Suyuti, Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, (Jakarta: Gema
Insani, 2008), cet.1, hlm.113-114
[2][2]
A.W. munawwir. Kamus Al-Munawwir. (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1997)
cet. 14, hlm. 1446.
[3][3]
QS. Al-Dzariyat : 56
[4][4]
Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir. (Beirut : Dar al-fikr, 2011) jilid I
hlm. 312
[5][5]
Abdul Mudjib. Kaidah-Kaidah Ilmu Fiqih. (Jakarta Pusat : Kalam Mulia, 1996)
cet. 2 , hlm. 97
[6][6]
A.W. munawwir. Kamus Al-Munawwir. (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1997)
cet. 14, hlm. 1474
[7][7]
Muhammad Ali As-Shabuni. Shofwah at-Tafasir. (Beirut : Dar al-Fikr, 2001)
jilid I, hlm. 172
[8][8]
Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (Bairut Libanon: Dar
al-Fikr. 2006), hlm 217-218