RESUME TAFSIR INDONESIA
AYAT SUCI DALAM RENUNGAN 1-30 JUZ Karya Moh. E Hasim
Khaerudin
TH VI/ A 14113440028
IAIN SYEKH NURJATI CIREBON
Buku ini merupakan tafsir al-Qur’an utuh 30 juz yang
ditulis oleh M. E. Hasim dengan runtut sesuai urutan dalam mushaf Utsmani. Setiap
volume disesuaikan dengan pembagian juz yang ada dalam mushaf sehingga buku ini terdiri dari
30 jilid. Gaya bahasanya sangat polpuler dan bersahaja.
Sebelum masuk dalam kajian inti (tafsir al-Qur’an), Hasim
menguraikan tentang beberapa huruf yang mempunyai makhraj spesifik lidah Arab,
seperti: ط, ض, ص,ش , ذ, خ, ث, dan ظ. Diuraikan
juga tentang beberapa huruf Arab yang biasanya ditulis latin dengan huruf “a”
namun bersuara “o”, penjelasan tentang huruf ta’ marbuthah, serta
bentuk-bentuk huruf yang berbeda-beda ketika ditulis di tengah, di awal dan di
akhir.[1]
Berdasar
dari sumber yang didapat, buku ini
dicetak di Bandung oleh penerbit Pustaka pada tahun 1988.
Bentuk
Penyajian Tafsir
Bentuk
penyajian tafsir ini menggunakan sistematika tahlili ijmali (runtut global). Di
setiap ayat yang diurai, diberi tarjamah perkata, namun Hasim tidak
menganalisis makna kata tersebut secara teks dan konteks sosio-kultural
masyarakat pengguna bahasa saat itu. Sistematika global yang ditemukan adalah orientasi
untuk memudahkan pembaca dalam menangkap
makna suatu ayat. Contoh tafsir Surat al-Fatihah ayat 1 :
Setiap umat islam yang mukalaf baik pria
maupun wanita diwajibkan beribadah dalam bidang hablumminallah dan hablumminannas.
Setiap ibadah adalah amal sholeh baik ibadah mahdlah maupun ghoiru
mahdlah. Dan setiap amal shaleh hendaknya dimulai dengan mengucapkan basmalah,
sabda Rasulallah berbunyi yang artinya, Setiap pekerjaan penting yang tidak
dimulai dengan menyebut nama Allah adalah putus (buntung) yang tidak memperoleh
hasil.
Dari
contoh di atas terlihat bahwa Ayat Suci dalam Renungan ini tidak membincang
persoalan terkait basmalah secara mendalam. Misalnya bagaimana kedudukan
basmalah dalam surat al-Fatihah, keutamaan-keutamaan basmalah dan seterusnya. [2]
Gaya
Bahasa penulisan Tafsir
Gaya
bahasa yang digunakan dalam buku Ayat al-Qur’an dalam Renungan ini adalah gaya
bahasa Populer yakni model gaya bahasa penulisan tafsir yang menempatkan bahasa
sebagai medium komunikasi dengan karakter kebersahajaan. Kata maupun kalimat
yang digunakan, dipilih sederhana dan mudah.[3]
Bentuk
Penulisan Tafsir
Bentuk
penulisan tafsir buku ini adalah bentuk penulisan non ilmiah. Maksudnya bentuk
penulisan tafsir tidak menggunakan kaedah penulisan ilmiah yang mensyaratkan
adanya footnote, endnote, maupun catatan perut dalam menjelaskan tafsir.
Meskipun tidak menggunakan bentuk penulisan ilmiah, bukan berarti tafsir ini
dianggap tidak ilmiah. Kategori non ilmiah di sini tidak ada kaitannya dengan
isi. Kategori hanya digunakan dalam konteks memetakan bentuk penulisan, bukan
isi sebuah tafsir.[4]
Sifat Mufasir dan Asal Usul Literature Tafsir
Berdasar
pemetaan yang dilakukan oleh Islah Gusmian, sifat mufasir di sini dimaksudkan
kondisi jumlah penulis tafsir. Buku tafsir Ayat al-Qur’an dalam Renungan ditulis
oleh satu orang atau individual, berbeda dengan tafsir kolektif yang disusun
oleh suatu kelompok terdiri dari beberapa orang. Adapun asal-usul literature
tafsir ini berasal dari Non Akademik dengan pengertian bukan berasal dari
kepentingan akademik sebagai persyarataan mendapatkan gelar akademik seperti
dalam bentuk skripsi, tesis maupun
disertasi.[5]
[1]
Islah
Gusmian. Khazanah Tafsir Indonesia. (Yogyakarta: Lkis. 2013) hlm. 88
[2] Islah Gusmian. Khazanah Tafsir
Indonesia. Ibid., hlm. 158
[3] Islah Gusmian. Khazanah Tafsir
Indonesia. Ibid., hlm 180
[4] Islah Gusmian. Khazanah Tafsir
Indonesia. Ibid,. hlm 185
[5] Islah Gusmian. Khazanah Tafsir
Indonesia. Ibid,. hlm 195
Tidak ada komentar:
Posting Komentar