Rabu, 11 Juni 2014



RESUME TAFSIR INDONESIA
AYAT SUCI DALAM RENUNGAN 1-30 JUZ Karya Moh. E Hasim

Khaerudin
TH VI/ A        14113440028
IAIN SYEKH NURJATI CIREBON

Buku ini merupakan tafsir al-Qur’an utuh 30 juz yang ditulis oleh M. E. Hasim dengan runtut sesuai urutan dalam mushaf Utsmani. Setiap volume disesuaikan dengan pembagian juz yang ada  dalam mushaf sehingga buku ini terdiri dari 30 jilid. Gaya bahasanya sangat polpuler dan bersahaja.
Sebelum masuk dalam kajian inti (tafsir al-Qur’an), Hasim menguraikan tentang beberapa huruf yang mempunyai makhraj spesifik lidah Arab, seperti: ط, ض, ص,ش , ذ, خ, ث,  dan  ظ. Diuraikan juga tentang beberapa huruf Arab yang biasanya ditulis latin dengan huruf “a” namun bersuara “o”, penjelasan tentang huruf ta’ marbuthah, serta bentuk-bentuk huruf yang berbeda-beda ketika ditulis di tengah, di awal dan di akhir.[1] Berdasar dari sumber yang didapat, buku  ini dicetak di Bandung oleh penerbit Pustaka pada tahun 1988.    
Bentuk Penyajian Tafsir
Bentuk penyajian tafsir ini menggunakan sistematika tahlili ijmali (runtut global). Di setiap ayat yang diurai, diberi tarjamah perkata, namun Hasim tidak menganalisis makna kata tersebut secara teks dan konteks sosio-kultural masyarakat pengguna bahasa saat itu. Sistematika global yang ditemukan adalah orientasi untuk  memudahkan pembaca dalam menangkap makna suatu ayat. Contoh tafsir Surat al-Fatihah ayat 1 :
Setiap umat islam yang mukalaf baik pria maupun wanita diwajibkan beribadah dalam bidang hablumminallah dan hablumminannas. Setiap ibadah adalah amal sholeh baik ibadah mahdlah maupun ghoiru mahdlah. Dan setiap amal shaleh hendaknya dimulai dengan mengucapkan basmalah, sabda Rasulallah berbunyi yang artinya, Setiap pekerjaan penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah adalah putus (buntung) yang tidak memperoleh hasil.
Dari contoh di atas terlihat bahwa Ayat Suci dalam Renungan ini tidak membincang persoalan terkait basmalah secara mendalam. Misalnya bagaimana kedudukan basmalah dalam surat al-Fatihah, keutamaan-keutamaan basmalah dan seterusnya. [2]
Gaya Bahasa penulisan Tafsir
Gaya bahasa yang digunakan dalam buku Ayat al-Qur’an dalam Renungan ini adalah gaya bahasa Populer yakni model gaya bahasa penulisan tafsir yang menempatkan bahasa sebagai medium komunikasi dengan karakter kebersahajaan. Kata maupun kalimat yang digunakan, dipilih sederhana dan mudah.[3]
Bentuk Penulisan Tafsir
Bentuk penulisan tafsir buku ini adalah bentuk penulisan non ilmiah. Maksudnya bentuk penulisan tafsir tidak menggunakan kaedah penulisan ilmiah yang mensyaratkan adanya footnote, endnote, maupun catatan perut dalam menjelaskan tafsir. Meskipun tidak menggunakan bentuk penulisan ilmiah, bukan berarti tafsir ini dianggap tidak ilmiah. Kategori non ilmiah di sini tidak ada kaitannya dengan isi. Kategori hanya digunakan dalam konteks memetakan bentuk penulisan, bukan isi sebuah tafsir.[4]  
 Sifat Mufasir dan Asal Usul Literature Tafsir
Berdasar pemetaan yang dilakukan oleh Islah Gusmian, sifat mufasir di sini dimaksudkan kondisi jumlah penulis tafsir. Buku tafsir Ayat al-Qur’an dalam Renungan ditulis oleh satu orang atau individual, berbeda dengan tafsir kolektif yang disusun oleh suatu kelompok terdiri dari beberapa orang. Adapun asal-usul literature tafsir ini berasal dari Non Akademik dengan pengertian bukan berasal dari kepentingan akademik sebagai persyarataan mendapatkan gelar akademik seperti dalam bentuk skripsi, tesis maupun  disertasi.[5]


[1] Islah Gusmian. Khazanah Tafsir Indonesia. (Yogyakarta: Lkis. 2013) hlm. 88
[2] Islah Gusmian. Khazanah Tafsir Indonesia. Ibid., hlm. 158
[3] Islah Gusmian. Khazanah Tafsir Indonesia. Ibid., hlm 180
[4] Islah Gusmian. Khazanah Tafsir Indonesia. Ibid,. hlm 185
[5] Islah Gusmian. Khazanah Tafsir Indonesia. Ibid,. hlm 195

Tidak ada komentar:

Posting Komentar